Edisi Terbaru

BIOGRAFI Abu Ar-Raihan Al-Biruni
Abu Ar-Raihan Al-Biruni merupakan salah satu dari dua ilmuwan besar muslim dalam bidang pengetahuan alam, sekalipun para ilmuwan Barat mengatakan bahwa dialah satu-satunya ilmuwan terbesar muslim. Bahkan salah seorang dari mereka menganggapnya sebagai pemikir ilmiah terbesar sepanjang sejarah manusia.
Tempat, Tanggal lahir, dan Riwayat Hidupnya
Ada perbedaan pendapat tentang tahun lahir dan wafatnya Al-Biruni. Namun kebanyakan mengatakan bahwa dia dilahirkan pada tahun 362 H (973 M), sekalipun ada juga yang mengatakan bahwa dia dila-hirkan pada tahun 351 H (962 M). Adapun tempat kelahirannya adalah salah satu pinggiran kota Kats yang merupakan pusat kota Khawarizm di Asia Tengah.
Inilah yang menyebabkan dia dipanggil dengan nama Al-Biruni, karena Birun adalah bahasa Persia yang berarti pinggiran kota. Bahasa ibunya adalah bahasa Persia dan kebudayaannya juga kebudayaan Persia, sekalipun dari segi ras mereka berasal dari Turki. Nama lengkapnya adalah Abu Ar-Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Khawarizmi Al-Biruni. Orang-orang berilmu pada masanya memanggilnya dengan "ustadz” (guru besar) sebagai bukti tingkat keilmuannya yang tinggi. Sedangkan orang-orang Barat mengenalnya dengan panggilan Master Aliboron.
Sejak usia kanak-kanak, Al-Biruni belajar kepada Abu An-Nashr bin Arraq. Dia menunjukkan potensinya yang besar sejak usia dini dalam bidang matematika, astronomi, geografi, sejarah, dan berbagai macam ilmu lainnya.
Ketika dia berusia dua puluh tahun, Abu Ar-Raihan pergi ke negeri Jurjan dan bekerja pada pangeran Syamsul Ma'ali Qabus bin Wasykamir. Itulah kesempatan yang baik baginya untuk bertemu dengan para ilmuwan besar yang bekerja di istana Syamsul Ma'ali. Di antaranya dia bertemu dengan Ibnu Sina yang dikenal memiliki persahabatan dekat dengan Al-Biruni sehingga membuahkan korespondensi ilmiah yang sangat bernilai antara kedua ilmuwan besar ini.
Abu Ar-Raihan mulai menulis buku sejak dia berana Istana Jurjan. Dia telah bekerja selama sepuluh tahun di istana itu, kemudian kembali ke Khawarizm sekitar tahun 400 H (1010 M) dan bekerja kepada Kharizmiyah (Abu Al-Abbas Al-Ma'mun) dan menjadikannya sebagai penasihat khususnya. Selama berada di istana Abu Al-Abbas, kehidupan Al-Biruni dipenuhi dengan kegiatan mela-kukan penelitian hingga terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka, yaitu berubahnya situasi politik akibat terbunuh Abu Al-Abbas dan kekuasaannya diambil alih oleh sultan Ghaznah", Mahmud bin Sabkatkin atau Mahmud Al-Ghaznawi, yang kemudian menguasai Khawarizm.
Tentara Mahmud Al-Ghaznawi menahan semua tawanan termsuk para ilmuwan yang berada di istana Khawarizmsyah. Sultan Al-Ghaznawi adalah seorang yang keras dan tidak paham agama Islam yang sebenarnya sehingga dia memerintahkan untuk membunuh para ilmuwan tersebut. Al-Biruni termasuk diantara yang hampir saja menemui ajalnya ketika itu, kalau bukan karena diselamatkan oleh seorang cendikiawan pengikut sultan Al-Ghaznawi yang telah mengenal Abu Ar-Raihan dan pengalamannya dalam ilmu perbintangan, sehingga dia membiarkannya hidup dan disuruh bekerja di istananya di Ghaznah. Abu Ar-Raihan Al-Biruni kemudian turut melakukan penaklukan yang dilakukan oleh sultan di Utara India. Setelah berada di India, Al-Biruni mempelajari bahasa penduduk setempat, agama, filsafat, ilmu, dan kebudayaan mereka. Di sana dia menulis buku-buku tentang sejarah mereka yang menjadi rujukan terpenting bagi India hingga waktu belakangan. Dia tinggal di India dalam waktu yang sangat lama, bahkan ada yang mengatakan hampir empat puluh tahun. Dia kemudian kembali ke Ghaznah dan menfokuskan diri melakukan penelitian dan menulis. Setelah wafatnya Sultan Mahmud, Al-Biruni tetap menjaga hubungan baiknya dengan istana Ghaznah pada masa pemerintahan anaknya, Sultan Mas'ud.
Al-Biruni terus melakukan penelitian dan menulis hingga akhir hayatnya. Para sejarawan sepakat bahwa dia wafat pada tahun 440 H (1048 M). Namun, seorang orientalis bernama Max Mayerhope menegaskan bahwa selama dia melakukan penelitian tentang biografi Al-Biruni dan penemuan ilmiahnya, dia menyimpulkan bahwa Al-Biruni wafat pada tahun 442 H (1050 M).
Para Ilmuwan yang Hidup Semasa dengannya
Al-Biruni hidup masa tiga ilmuwan muslim besar dan terkemuka, yaitu Ibnu Sina, Al-Hasan bin Al-Haitsam, dan Al-Karkhi.

Bidang Spesialisasi yang Paling Menonjol Ditekuni oleh Al-Biruni
Al-Biruni adalah ilmuwan muslim yang paling banyak menulis ensiklopedia sehingga dia sangat menonjol dalam semua bidang pengetahuan dan penelitian, tanpa mengurangi akurasi dan kebenaran basil penelitiannya pada saat yang bersamaan dalam ilmu dan penelitan yang ditekuninya. Adapun penemuan ilmiahnya yang terpenting terfokus pada beberapa ilmu berikut:
- Ilmu matematika: geometri, ilmu hitung, ilmu hitung trigonometri, dan aljabar.
- Ilmu pengetahuan alam: Mekanik, Hidrostatistik dan optik.
Dia memiliki banyak karya tulis dalam bidang as-tronomi, geologi, geokimia, geografi, dan geografi matematika. Kemudian dalam ilmu humaniora dia dikenal dengan penelitian dan karya-karyanya seperti; karya dalam sejarah, filsafat, agama, sosial, dan kalender berbagai suku bangsa.
Kemampuan Bahasa Al-Biruni
Al-Biruni menguasai banyak bahasa yang umum dipakai pada masa itu, di samping memiliki kemampuan intelektualitas yang sangat istimewa. Ini semua telah membantunya dalam melakukan penelitian dan menulis karya-karyanya. Selain bisa bahasa Arab dan bahasa Persia, Al-Biruni juga bisa bahasa Iberia, Suryani, dan Sanskerta. Dan, terakhir dia menguasai bahasa kebudayaan India dan banyak menulis buku-buku dalam bahasa India,sehingga buku-bukunya yang berbahasa India diter¬jemahkan ke dalam bahasa Arab dan ilmu kaum muslimin diterjemahkan ke dalam bahasa India. Perlu diberitahukan bahwa Al-Biruni secara khusus sangat menyukai bahasa Arab dan banyak dipergunakan dalam karya-karyanya.
Penelitian dan Penemuan Ilmiah Al-Biruni
(1) -Dalam Ilmu Matematika Aljabar:
- Al-Biruni mempelajari persamaan Al-Khawarizmi dalam aljabar dan memberikan penambahan padanya.
- Dia menyusun kaedah-kaedah geometri.
Geometri:
- Dia membuat dasar-dasar gambar pada permukaan bola.
- Dia membuat rumus-rumus matematika untuk menghitung lingkaran bumi dan diameternya yang dikenal dengan rumus Al-Biruni.
- Dia menyelesaikan soal-soal yang dikenal dengan sebutan soal-soal Al-Biruni, yaitu soal-soal yang tidak dapat diselesaikan dengan penggaris dan jangka.
Hitungan trigonometri:
- Dia berhasil menemukan rumus-rumus yang sesuai dengan sinus.
- Dia membuat tabel-tabel matematika bagi sinus sudut dan bayangannya.
- Dia membahas sudut segitiga dan membaginya secara rata.
Kalkulus:
- Dia berhasil membuat rumus kalkulus yang ditemukan oleh Tsabit bin Qurah dengan menggunakan bukti-bukti geometris. Penemuan ini akhirnya diklaim sebagai penemuan Ishac Newton oleh orang Barat.
Aritmatika (ilmu hitung)
Dia memiliki beberapa buku yang dikarangnya dalam aritmatika. Dia juga menulis buku tentang sejarah angka India dan perpindahannya ke Arab serta pengembangannya seperti yang kita kenal sekarang.
Beberapa Karyanya di Bidang Matematika dan Aplikasinya
- "Kitab Al-Masa'il Al-Handasiyyah"
- "Kitab Tasthih Ash-Shuwar Wa Tabthih Al-Kuwar"
- "Kitab Istikhraj Al-Authar Fi Ad-Dairah Bikhawash Al-Khaththi Al-Munhani Fiha"
- "Kitab Jam'i Ath-Thuruq As-Sa'irah Fi Ma'rifati Autar Ad-Da'irah"
- "Kitab Tarjamah Ma Fi Barahin As-Sadhanah Min Thuruq Al-Hisab"
- "Kitab Kaifiyyati Rusum Al-Hindi fi Ta'allum Al-Hisab"
(2) Bidang Ilmu Pengetahuan Alam (Fisika)
- Dia mengembangkan cara dan menemukan peralatan untuk menentukan timbangan logam dengan tingkat akurasi yang tinggi mendekati cara-cara yang ada pada masa sekarang.
- Dia menerangkan fenomena khusus yang berhubungan dengan tekanan zat cair gas dan keseimbangannya. Dia juga menjelaskan mengapa air yang menguap dan mata air naik ke atas. Untuk mengetahui fenomena ini, dia menggunakan rumus-rumus hidrostatistik.
- Dia telah mendahului para ilmuwan pada masanya dalam menyimpulkan bahwa kecepatan cahaya melebihi kecepatan suara. Dia sependapat dengan Ibnul Haitsam dalam menentang pendapat Galenus, dan mengatakan bahwa sinar cahaya bersumber dari objek benda yang dilihat ke mata.
(3) Bidang Geologi dan Ilmu Pertambangan
Al-Biruni memperingatkan terjadinya dua fenomena, yaitu; "terbenamnya daratan oleh air laut" dan "penyurutan air laut" baik pada masa lampau sebelum terciptanya manusia, maupun setelahnya. Dia menjelaskan secara khusus bahwa jazirah Arab telah ditenggelamkan oleh air laut sebelum air laut itu menyusut kembali dan meninggalkan bekas-bekasnya pada lapisan bumi dan tanda-tandanya di batu dan karang. Sebagaimana dia juga menjelaskan bahwa lembah sungai As-Sanad sebelumnya adalah laut sebelum ditanami pohon-pohon yang akhirnya menutupi sungai itu selamanya.
Dari tulisan-tulisan Al-Biruni nampak jelas bahwa dia mengetahui hakekat perubahan yang terjadi pada kulit bumi, dan bahwa perubahan itu terjadi secara pelan dan bertahap dalam jangka waktu yang sangat panjang, atau seperti yang kita ketahui dengan istilah sekarang "Eon dan masa geologi." Bahkan dia juga mengetahui hakekat dan sisa-sisa kehidupan masa lalu di bumi dari hasil penggalian. Kedua hal ini tidak diketahui oleh bangsa Eropa kecuali setelah masa kebangkitan, dengan selisih waktu bertahun-tahun.
Dalam bukunya, "Al-Jamahir Fi Ma'rifatil Jawahir," Al-Biruni telah menggagas dasar-dasar ilmiah bagi ilmu pertambangan dan cara menambang. Dia kemudian menulis buku tentang logam berdasarkan fungsinya secara fisika. Dia juga membuat dasar-dasar ukuran kekerasan logam yang dipergunakan sekarang. Buku ini terdiri dari penjelasan tentang berbagai macam logam, tempat-tempat asalnya, cara mengeluarkannya dari tambang, campuran dan jenis kotoran yang ada padanya, dan berbagai macam manfaatnya.
Sedangkan dalam buku "Maqalah Fin Nasab Allati Baina Al-Falzat Wal Jawahir Fil Hajm," Al-Biruni memaparkan hasil penelitiannya tentang timbangan delapan belas jenis logam dan batu. Timbangan-timbangan ini sangat mendekati hasil penelitian modern, sekalipun telah berlalu seribu tahun antara masa Al-Biruni dengan masa kita. Karena itu, tidak diragukan bahwa hal ini merupakan suatu penemuan ilmiah yang besar.
(4) Ilmu Astronomi
Al-Biruni adalah orang yang pertama kali menyimpulkan adanya pergerakan titik matahari yang terjauh dari bumi. Sebagaimana dia juga membuat tabel-tabel astronomi baru berdasarkan hasil penelitiannya dalam meneropong bintang-bintang. Dia bahkan mengkritisi tabel-tabel astronomi yang dibuat oleh para ilmuwan sebelumnya dan memperbaikinya.
Dalam dua bukunya yang berjudul, "Al-Qanun Al-Mas'udi Fi Al-Hai'ah Wa An-Nujum" dan "At-Tafhim li Awa'il Shina'at At-Tanjim,"Al-Biruni menulis sebagian besar basil penelitiannya dalam ilmu astronomi. Sebagaimana juga dalam buku yang pertama ini, dia mengumpulkan basil penelitiannya dalam meneropong bintang-bintang dan berbagai teori astronomi yang dikritisinya secara objektif.
Berikut sebagian karya Al-Biruni dalam ilmu astronomi:
- "Al-Qanun Al-Mas'udi Fi AL-Hai'ah Wa An-Nujum"
- At-Tafhim Li Awa`il Shina'at At-Tanjim
- "Kitab Maqalid Al-Ilmi Al-Hai'ah Wa Ma Yahduts Fi Basithat Al-Kurrah"
- "Kitab Istisyhad Bi Ikhtilaf Al-Arshad"
- Kitab Ath-Thatbiq Ila Tahqiq Harakat Asy-Syams"
- "Kitab Fi Tahqiq Manazil Al-Qamar"
- "Kitab Kurriyat As-Sama"'
- "Kitab Ru'yat Al-Ahillah"
- "Kitab Al-Aural Bi Al-Istharlab"
- "Kitab Dawa'ir As-Samawat Fi Al-Istharlab"
- "Kitab Isti'ab Al-Wujuh Al-Mumkinah Fi Shifat Al-Istharlab"
- "Ifrad Al-Maqal Fi Amri Azh-Zhilal"
- "Kitab Tashwir Al-Amri Al-Fajri Wa Asy-Syafqi Fi Jihati Asy-Syarqi Wa Al- Gharbi Min Al- Ufuq.
- Masih banyak lagi kitab karyanya yang lain.
(5) Bidang Geografi
Al-Biruni menjelaskan bahwa planet-planet yang kita kenal beredar di sekitar matahari, dan bahwa perbedaan antara malam dan siang disebabkan oleh perputaran bumi pada dirinya dan bukan karena perputaran matahari. Ini merupakan suatu penemuan wawasan yang baru mendahului para astronom Barat seperti Copernicus dan Galelio dengan selesih jarah sekitar Lima abad. Itupun kalau pemikiran keduanya bukan berasal dari pemikiran Al-Biruni yang didapatkan dari buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Buku Al-Biruni yang berjudul "Shifatul Ma'murah" dianggap sebagai sumber rujukan penting bagi ilmu pengetahun geografi, terutama karena dia banyak mengkritisi buku-buku geografi yang ada pada masanya.
Secara khusus, Al-Biruni unggul dalam geografi matematika, terutama yang berhubungan dengan penentuan garis lintang dan bujur serta jarak antara negara yang satu dengan lainnya, dan ilmu topografi (Ilmu pergerakan bumi).
Al-Biruni juga mengukur lingkaran bumi dengan menggunakan matematika geografi. Cara ini di Barat dikenal dengan sebutan "teori Al-Biruni." Menurut seorang orientalis. Nallino, "Pengukuran yang dilakukan oleh Al-Biruni pada lingkaran bumi merupakan salah satu efek dari peradaban Islam." Al-Biruni juga menguasai studi tentang pemerataan bola bumi -memindahkan gambar bumi yang berbentuk bola ke atas kertas- dengan membuatnya secara rata dan lurus, tanpa menghilangkan keserasian bagian-bagiannya.
Dalam sebagian bukunya, Al-Biruni mengkritisi pendapat para ilmuwan Yunani dan India tentang pem-bagian bola bumi dan penyebaran pemukiman di atas bumi. Hasilnya, dia menolak pemikiran orang-orang Yunani dan India yang mengatakan bahwa separuh bagian dari bumi di sebelah Barat tidak dapat ditempati. Sebagai bukti dari kelirunya pendapat orang-orang India ini, ternyata Kolombus menemukan dunia bare di belahan Barat bumi.
Berikut sebagian karya Al-Biruni dalam bidang geografi matematika:
- "Kitab Fi Tahdzib Al-Aqwal Fi Tashhih Al-Ardh Wa Al-Athwal"
- "Kitab Fi Tahdid An-Nihayat Al-Amakin Li Tashhih Masafat Al-Masakin"
- "Maqalah Fi Ta'yin Al-Bilad Min Al-Ardh Wath Thul Wa Kilahuma"
- "Maqalah Fi Istikhraj Al-Qadr Al-Ardhi Bi Rashdi Inhithath Al-Ufuq An Qalal Al-Jabal"
- "Kitab Idhah Al-Adillah Ala Kaifiyyati Samt Al-Qiblah"
- "Kitab Tashthish Ash-Shuwar Wa Tabthih Al-Kuwar"
- "Kitab Tahdid Al-Ma'murah Wa Tashhihuha Fi Ash-Shurah"
- "Kitab Takmili Shina'at At-Tashthih"
(6) Bidang Biologi
Dalam buku-bukunya, Al-Biruni memaparkan tentang prilaku menyimpang pada tumbuh-tumbuhan dan hewan (seperti fenomena kembar siam), dan menerangkan fenomena perkawinan pada beberapa jenis daun bunga.
(7) Bidang Farmakologi
Dalam bidang farmakologi, Al-Biruni menulis buku berjudul "Kitab Ash-Shaidalah Fith Thib" yang disusun berdasarkan huruf abjad dan berisi tentang berbagai macam obat-obatan serta pendapat orang-orang ter-dahulu tentang obat-obatan tersebut.
(8) Bidang Humaniora dan Sastra
Al-Biruni memiliki karya yang sangat legendaris dalam bidang humaniora dan termasuk yang diperhitungkan dalam peradaban Arab Islam. Berikut adalah penjelasannya:
Dalam bidang sejarah
Dia menulis buku "Tahqiq Ma Li Al-Hindi Min Maqulah Maqbulah Fi Al-Aqli Au Mardzawilah," atau yang lebih dikenal dengan nama "Thariq Al-Hindi."Buku ini berisi pengetahuan yang benar dan akurat yang dia kumpulkan dari India selama empat puluh tahun. Buku ini mengupas permasalahan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya di India, seperti sastra, kehidupan beragama, filsafat, adat, dan tradisi masyarakat setempat. Buku ini menjadi rujukan dunia tentang India dan seluk beluk kondisi negaranya, serta diterjemahkan oleh seorang orientalis Jerman, Schau, ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di London pada tahun 1887 M.
Al-Biruni juga menulis buku yang berjudul "Al-Atsar Al-Baqiyah Min Al-Qurun Al-Khaliyah" pada masa mudanya ketika dia masih berada di Istana Jurjan. Buku ini menjadi dasar penentuan berbagai kalender dari semua suku bangsa di dunia, hari raya, dan musim-musimnya. Dia melakukan studi banding antara kondisi sebelumnya dengan keadaan pada masanya. Dia menjelaskan tentang bagaimana sejarah yang bermacam-macam bisa bertemu. Di samping itu, dia juga membuat tabel-tabel khusus tentang nama-nama bulan Persia, Turki, India, Iberia dan Romawi. Penulisan buku ini sebenarnya tidak terlepas dari penelitiannya dalam ilmu astronomi, matematika, dan fisika.
Dalam bidang filsafat
Al-Biruni memiliki beberapa karya dalam bidang filsafat, karena ketika menetap di India dia belajar ilmu filsafat India dan mengajarkan filsafat Yunani kepada orang-orang India. Selain itu, Al-Biruni juga melakukan korespondensi dengan Ibnu Sina yang membahas tentang perbandingan antara berbagai aliran filsafat dan sufi di kalangan orang-orang India, umat kristiani, dan masyarakat muslim.
Dalam bidang sastra:
Al-Biruni banyak mendapatkan pengalaman di bi-dang kebudayaan dan sastra, dan menulis buku tentang hal itu, seperti "Syarhu Syi'ri Abi Tamam," dan "Mukhtar Al-Asy'ar Wa Al-Atsar."
Pemikiran Ilmiah Al-Biruni
Al-Biruni mengkritik metodologi India karena tidak ilmiah dan ilmu mereka tidak jauh dari sekedar mengira-ngira. Dia berpendapat bahwa ilmu yang diyakini kebenarannya adalah yang diperoleh dari perasaan antara akal dan logika.
Dalam pengantar bukunya yang berjudul "Al-Atsar Al-Baqiyah Min Al-Qurun Al-Khaliyah," dia menjelaskan bahwa metodologi ilmiah itu terdiri dari beberapa hal berikut:
Seorang ilmuwan tidak menemukan ilmu dengan tiba-tiba, melainkan dari apa yang dia pelajari sebelumnya dari buku-buku orang terdahulu.
Karena itu dalam mempelajari buku-buku orang terdahulu harus diikuti dengan kritik yang bertujuan memperbaiki kesalahannya berdasarkan dalil-dalil akal.
Agar kita dapat meyakini kebenaran dalil akal tersebut, maka kita harus mempraktikkannya secara fisik dalam bidang ilmiah yang bermacam-macam.
Dalam melakukan penelitian ilmiah, terutama yang berhubungan dengan mikanik dan statistik, Al-Biruni melakukan percobaan dan menjadikannya sebagai hasil penelitiannya. Dia secara tegas menolak adanya pemikiran khurafat (tahayyul), sehingga dia banyak menolak berbagai pemikiran -sekalipun pemikiran para ilmuwan-seperti pemikiran tentang berubahnya logam yang tidak berharga menjadi emas dan perak. Bahkan dalam hal ini ada yang lucu, karena dia juga menolak pemikiran bahwa mata ular bisa mencucurkan air mata ketika melihat zamrud. Sebelum menolak pemikiran ini, dia mengadakan percobaan dengan menunjukkan kalung zamrud dan menggerak-gerakkannya di depan mata ular, ternyata ular itu tidak mencucurkan air mata seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Dia lalu berkata, "Kalung zamrud itu justru menghiasi matanya, dan tidak ber-pengaruh sedikit pun, atau bahkan membuat penglihatannya semakin tajam."
Karya-karyanya
Karya-karya Al-Biruni yang telah kami sebutkan di halaman sebelumnya sebenarnya hanya merupakan contoh terpenting dari sekian banyak karyanya. Yang jelas, Al-Biruni tidak mempelajari dan menguasai suatu ilmu dalam bidang apa pun kecuali dia akan menulis buku tentang hal itu. Dalam buku "Yaqut Al-Hamawi" dikatakan bahwa karya-karyanya digotong oleh unta. Sedangkan sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa dia menulis sebanyak 180 buku dalam bidang matematika, astronomi, ilmu pengetahuan alam, geologi dan pertambangan, farmasi, kedokteran, fenomena cuaca, peralatan-peralatan ilmiah, geografi, kalender, filsafat, agama, sosial, dan sastra.
Sebagian buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Inggris, Prancis, Rusia, Urdu, dan Jerman.
Tentang Kepribadian Al-Biruni
Banyaknya produk pemikiran Al-Biruni dan penguasaannya pada'berbagai cabang ilmu yang ditekuninya tidak selamanya hanya dilihat dari nilainya, melainkan juga karena pembahasannya sangat mendalam dan tingkat akurasinya sangat tinggi. Inilah yang membedakan antara Al-Biruni dengan lainnya. Di samping memang jenius, Al-Biruni juga memiliki akhlak yang baik dan berlapang untuk menerima kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari bangsa lain serta menulis dari sumber ash bukan dari terjemahannya. Karya-karyanya sangat menjaga amanah ilmiah, sehingga dia tidak pernah menghapuskan atau menafikan pendapat orang lain, atau mengklaim penemuan orang lain sebagai penemuannya, sekalipun dia banyak memberikan penambahan pada berbagai penemuan tersebut. Misalnya seperti yang dinyatakan dalam bukunya "Maqalid Ilmi Al-Hai'ah Wa Ma Yahduts Fi Basith Al-Kurrah," bahwa kesimpulan tentang bentuk bayangan ditemukan oleh Abu Al-Wafa Al-Buzjani.
Sikap tawadhu' merupakan sifat yang sangat dominan pada Al-Biruni. Dia berpendapat bahwa seorang ilmuwan hendaknya melepaskan dari kecenderungan hawa nafsu dan keinginan pribadi, lalu dia melakukan penelitian dengan objektif, karena itulah memang tugas hakiki dari seorang ilmuwan, dan bukan untuk membanggakan diri dengan penemuannya. Sikap tawadhu' inilah yang membuatnya tidak ingin populer di kalangan umum dan mendapatkan pujian dari mereka, sekalipun dia memiliki hubungan dekat dengan raja-raja dan jabatan yang tinggi. Bahkan pernah pada suatu ketika dia menghadiahkan bukunya kepada Sultan Mas'ud Al-Ghaznawi, yaitu buku yang bei judul "Al-Qanun Al-Mas'udi," lalu Sang Sultan memberinya uang mas yang banyak, akan tetapi Al-Biruni menolaknya dan mengembalikannya ke Baitulmal karena dia merasa tidak memerlukannya.
Al-Biruni dikenal giat belajar dan hampir tidak pernah lalai serta hampir tidak pernah tangannya lepas dari pena. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Jamal Mursi Badar bahwa seorang hakim berkunjung kepada Al-Biruni dan dia berbicara tentang masalahnya. Al-Biruni kemudian bertanya kepadanya tentang masalah itu. Akan tetapi Hakim itu merasa kasihan memberitahukan masalah ini kepadanya dalam keadaan dia seperti ini. Namun Al-Biruni tetap mendesaknya karena ingin tahu ilmunya, sehingga dia berkata, "Aku berikan harta kepadamu untuk mengetahui masalah ini lebih baik bagiku dari pada aku tidak mengetahuinya." Selang berapa waktu kemudian sang hakim kembali ke rumah Al-Biruni untuk mengembalikan harta pemberiannya. Akan tetapi keluarganya memberitahukan kepadanya bahwa Al-Biruni telah wafat setelah ia merasa puas belajar dari buaian hingga ke liang lahat.
Bahasa Persia merupakan bahasa kebudayaan bangsa Al-Biruni di Asia Tengah, sekalipun dia juga menguasai berbagai bahasa lainnya, namun dia lebih mencintai bahasa Al-Qur'an dan dapat menyampaikan pembicaara berbahasa Arab dengan baik. Dalam hal itu, dia mengatakan, "Saya telah menerjemahkan berbagai macam ilmu dari seluruh penjuru dunia ke dalam bahasa Arab. Bahasa Arab telah bersarang di lubuk hati saya, dan berjalan di semua aliran darah, termasuk di denyut nadi. Cacian dengan bahasa Arab lebih saya sukai dari pada pujian dengan bahasa Persia. Kebenaran perkataan saya ini akan diketahui dari buku-buku karangan saya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Alangkah tercorengnya wajah mereka, karena bahasa ini tidak lebih dari sekedar bahasa pengantar di istana dan dongeng-dongeng tengah malam.
Kedudukan Al-Biruni Sepanjang Zaman
Al-Biruni menempati kedudukan yang tinggi di antara para ilmuwan yang hidup pada masanya. Kemampuannya banyak diketahui kalangan tertentu yang berada di seluruh negara Islam. Akan tetapi dia tidak populer di kalangan umum karena sebab-sebab yang telah kami sebutkan tadi. Setelah wafatnya, Al-Biruni dikenal di Eropa. Sedangkan di dunia Islam, kedudukannya semakin meredup secara bertahap hingga terlupakan sama sekali bersamaan dengan datang masa kemunduran umat Islam. Pada masa sekarang, nama Al-Biruni kembali bersinar dari Barat. Hal itu, karena umat Islam ketika menyadari pada abad ketujuh belas bahwa peradaban Barat telah maju dan mereka berbondong-bondong belajar ke Barat, ternyata mereka baru menyadari kedudukan Al-Biruni yang sangat tinggi di mata mereka dan dikenal sebagai ilmuwan terkemuka sepanjang masa.
Sekarang, semua bangsa berlomba menghormati Abu Ar-Raihan Al-Biruni. Kita juga mendapatkan bangsa Arab, Persia, Turki, India, dan kaum muslimin di Asia Tengah berebut status bahwa Al-Biruni berasal dari kalangan mereka. Selain itu, kita mendapatkan patung Al-Biruni disejajarkan dengan patung-patung para ilmuwan lainnya di musium geologi di Universitas Moskow. Kita juga membaca dan mendengar berita tentang peringatan lahirnya ilmuwan yang telah memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia ini di beberapa media cetak, sebagai penghormatan baginya. Diantaranya adalah:
- Pada tahun 1950 M, dalam rangka memperingati seribu tahun lahirnya Al-Biruni, Akademi Ilmu Uni Soviet menerbitkan majalah kenangan bagi Al-Biruni yang berisi makalah dan tulisan Al-Biruni setebal 139 halaman.
- Pada tahun 1951, dalam rangka peringatan yang sama, di India diterbitkan beberapa jilid buku berisi biografi Al-Biruni dan penemuan ilmiahnya, serta dimuat dalam empat bahasa.
- Pada tahun 1973, dalam rangka memperingati hari lahirnya Al-Biruni yang keseribu tahun Hijriyah, di Pakistan dilaksanakan muktamar internasional tentang karya dan penemuan Al-Biruni serta pengaruhnya bagi ilmu modern.
- Pada tahun 1974, UNESCO menerbitkan majalah edisi khusus tentang Al-Biruni, yang berisi tentang biografi dan penemuan ilmiahnya.
Komentar Tentang Al-Biruni
- Dalam rangka membicarakan para ilmuwan muslim, seorang orientalis Inggris, Bernard Louis mengatakan pada bab kedelapan dari bukunya "Al-Arab Fi At-Tarikh,"
"Ilmuwan terkemuka di antara semua ilmuwan itu adalah Al-Biruni (973-1048). Dia adalah seorang ilmuwan dalam bidang fisika, astronomi, matematika, psikologi, kimia, geografi, dan sejarah. Dia adalah ilmuwan yang sangat dalam ilmunya dan cendikiawan ulung yang merupakan salah satu ilmuwan terkemuka pada masa Islam pertengahan."
- Smith mengatakan dalam bukunya "Tarikh Ar-Riyadhiyyat," "Al-Biruni merupakan ilmuwan paling tenar pada masanya dalam bidang matematika, dan orang-orang Barat berhutang budi kepadanya dengan mereka mengetahui India dan pengaruhnya bagi ilmu-ilmu yang lain."
- Sarton mengatakan, "Al-Biruni adalah seorang peneliti, ahli filsafat, matematika, geografi, dan termasuk ilmuwan yang memiliki wawasan luas. Bahkan dia termasuk ilmuwan terkemuka Islam dan di dunia."
- Schau, seorang penerjemah dan penyunting buku Al-Biruni, mengatakan, "Untuk memberikan penghormatan kepada Al-Biruni dan mengakui keunggulannya memang memerlukan kerja keras bagi generasi peneliti sehingga dapat mempelajari warisan intelektualitasnya secara detil, mendalam, dan menyeluruh." Dia juga mengatakan dalam makalah yang sangat populer itu, "Al-Biruni merupakan ilmuwan terkemuka sepanjang sejarah."
- Mayer Hope mengatakan, "Nama Al-Biruni merupakan nama yang paling mengemuka di kalangan ilmuwan besar dan memiliki wawasan yang luas dan istimewa pada masa keemasan Islam."
- Tentang metode Al-Biruni dan akhlaknya, seorang ilmuwan Jerman bernama Schacht mengatakan, "Keberanian pemikiran Al-Biruni, kecintaannya kepada ilmu, jauhnya dari praduga, kesukaannya pada kebenarannya, toleransi dan keikhlasannya, semuanya tidak ada yang menyainginya pada abad pertengahan. Pada kenya-taannya, Al-Biruni adalah seorang yang jenius, banyak menemukan penemuan ilmiah dan memiliki kesadaran yang menyuluruh."
Perlu kami beritahukan bahwa Schacht adalah penyunting pengantar buku "Ash-Shaidanah" karangan Al-Biruni.
- Jack Risler mengatakan dalam bukunya, "Al-Hadharah Al-Arabiyyah,"
"Selama seribu tahun kegelapan yang pekat menyelimuti sejarah abad pertengahan, muncullah nama ilmuwan muslim bernama Abu Ar-Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni yang memiliki popularitas sangat luas. Dalam berbagai macam ilmu, seperti; filsafat, sejarah, geografi, matematika, fisika, bahasa dan sastra, Al-Biruni telah meninggalkan berbagai karya-karyanya yang sangat penting, sehingga dia diberi gelar `Leonardo Da Vinci' dunia Islam."
Dia juga mengatakan, "Dia adalah seorang penerjemah istimewa, dan ahli bahasa pada masanya. Kita berhutang budi kepadanya dengan diterjemahkannya karya-karya berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab. Sebagaimana dia juga telah menerjemahkan "Teori dasar Euklides," dan "Almagest Ptolemaeus" ke dalam bahasa Sansekerta.
Dia juga mengatakan, "Dalam ilmu astronomi, Al-Biruni menerima pernyataan bahwa bumi berbentuk bulat bola. Dia mengamati gravitasi semua benda yang jatuh ke bumi dan menjelaskan bahwa berbagai fenomena alam dapat diinterpretasikan demikian dengan persepsi bahwa bumi berputar pada porosnya setiap hari dan setiap tahun berputar mengelilingi matahari."
Jack Risler mengakui bahwa Al-Biruni mengusulkan pendapat bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Dengan demikian jelas bahwa secara implisit ini merupakan pengakuan bahwa Copernicus (1473-1543 M) bukan orang yang pertama kali menemukan teori ini.
- Seorang orientalis Amerika, Arter Ebham Bob, mengatakan, "Dalam daftar nama ilmuwan dunia manapun, nama Al-Biruni pasti berada di posisi yang tinggi. Sebab, tidak mungkin sempurna sejarah ilmu matematika, astronomi, geografi, humaniora, dan perbandingan agama tanpa kontribusinya yang besar dalam ilmu-ilmu tersebut."
Dia juga mengatakan, "Ada kemungkinan terjadi banyak penyaduran dari buku-buku karangan Al-Biruni sejak seribu tahun silam yang merupakan metode dan basil pemikiran lama, namun sekarang ini diklaim sebagai pemikiran baru yang modern."
- Al-Biruni dalam Ensiklopedia Britanica:
Dinyatakan dalam Ensiklopedia Britanica, "Al-Biruni merupakan salah satu orang yang paling banyak ilmunya pada masanya dan di antara salah satu tokoh kebudayaan yang menonjol. Dia memiliki akal yang cerdas dan menemukan banyak penemuan ilmiah yang ditulis dalam buku-bukunya."
Dalam Ensiklopedia itu juga dinyatakan, "Dalam salah satu kegiatannya di bidang astronomi adalah bahwa Al-Biruni telah mendiskusikan ide berputar bumi pada porosnya dan menyetujui pendapat itu. Dia juga melakukan penghitungan yang akurat (accurate cal-culation) terhadapa garis bujur dan garis lintang bumi. Dia juga menjelaskan sumber-sumber ilmu pengetahuan alam sesuai dengan rumus-rumus hidrostatistik dan menetapkan timbangan secara akurat bagi 18 macam batu mulia dan barang tambang. Dia juga berani mengusulkan bahwa lembah sungai As-Sanad, konon pada suatu ketika adalah dasar laut."
Artikel Pilihan dari Tulisan Al-Biruni
Al-Biruni menyukai bahasa Turkiman, yaitu sejenis bahasa Persia, di samping juga menyukai bahasa Arab. Dia menulis buku-bukunya dengan dua bahasa tersebut. Berikut petikan dari beberapa artikel pilihan dari buku-buku yang dikarangnya:
- Tentang Bumi yang Berbentuk Bulat Bola
"Dalam menetapkan bentuk bumi yang bulat, hendaknya perlu diketahui bahwa bumi membentang dari bujur Timur ke bujur Barat dan membentang dari lintang Selatan ke lintang Utara. Dalam mengukur panjangnya, Ptolemaeus berpedoman pada perbedaan waktu terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan secara secara khusus. Akan tetapi kita tidak yakin dengan kaedah-kaedah ini selama dia tidak memberikan argumentasi sehingga faktor matahari dan bulan sangat penting dalam menentukan luas bumi. Pertama, berkenaan dengan terjadinya gerhana matahari, kita tidak yakin hingga dia mengetahui sebab dia mengatakan hal itu dan sebab pengaruh bulan kepada bumi. Kita katakan bahwa apabila bulan memantulkan cahaya dari dirinya sendiri, maka ini tidak dapat diterima, karena sebagian dataran bulan ada yang gelap dan sebagiannya terang. Orang yang merenungkannya dengan baik, dia akan mendapatkan bulan berada di balik matahari. Sepanjang malam selama sebulan, bulan jauh dari matahari, dan bulan apabila terhalang oleh bintang nyasar, bintang yang tetap pada tempatnya, atau awan, is akan tidak tampak oleh mata kita, dan barangkali akan muncul satu atau dua jam kemudian. Adapun sebab terjadinya gerhana matahari adalah karena bulan berada pada garis yang sama dengan bulan, sehingga bulan menutupinya dari pandangan kita."
- Tentang terjadinya gerhana bulan
"Gerhana bulan terj adi ketika bumi berada di tengah-tengah antara bulan dan matahari sehingga bumi menutupi pancaran sinar matahari ke bulan."
- Tentang hubungan Arabisme dengan Islam
Dalam pengantar buku "Ash-Shaidanah" Al-Biruni menegaskan tentang hubungan Arabisme dengan Islam. Dia mengungkapkan rasa bangganya kepada Islam dan Arabisme, "Agama kita dan bangsa kita laksana dua orang yang kembar. Pada keduanya datang kekuatan Tuhan. Karena sebelumnya Islam semua kelompok bertikai dan Baling dengki. Sekalipun mereka memakai pakaian yang sama, namun mereka tidak saling merindukan. Akan tetapi selama adzan berkumandang di telinga mereka sebanyak lima kali dalam sehari dan didirikan shalat dengan membaca Al-Qur' an di belakang imam dengan berbaris, maka ada kedamaian di antara sesama mereka. Mereka saling bergandengan tangan dan mengucapkan satu bahasa. Ikatan Islam tidak akan pernah lepas dan bentengnya tidak akan pernah retak."

0 komentar:

Posting Komentar